Fastabiqul Khoirot

PERMENPAN RB

File PDF

Minggu, 21 Mei 2017

Godaan Syaitan






5 LANGKAH GAGALKAN GODAAN SYAITAN


1                                                     Membuat kurus syaitan dengan memperbanyak dzikir kepada Allah.
2                           Menghindari tempat-tempat maksiat
3                                                     Sadarlah bahwa syaitan suka cuci tangan
                                                      Ketahuilah syaitan itu mencari teman

5                                                   Janganlah terlalu banyak makan.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       Untuk Informasi lebih lanjut silahkan klik, DISINI                                                                                                         
                 






Senin, 10 April 2017

Mempelajari Ilmu Tajwid



Membaca Al-Qur’an dengan benar dan fasih adalah suatu keharusan  bagi orang Islam. Tahukah kalian, bahwa panjang atau pendeknya dalam bacaan dalam membaca Al-Qur’an sangat berpengaruh terhadap arti/ makna ayat-ayat Al-Quran? Oleh karena itu dalam membaca Al-Quran kalian harus hati-hati agar tidak terjadi kesalahan. Membaca Al-Qur’an dengan benar tentunya akan menambah kesempurnaan kalian dalam beribadah kepada Allah.  Untuk bisa membaca Al-Qur’an dengan benar kalian  harus faham ilmu tajwid. Untuk memperbaiki bacan al-Qur’an kalian berikut ini kalian akan mempelajari materi hukum bacaan mad, yaitu mad iwadl, mad layyin dan arid lis-sukun.

A. Mad Iwadl

Menurut bahasa mad artinya panjang dan Iwadl artinya pengganti. Sedangkan menurut istilah mad iwadl adalah mad yang terjadi apabila ada fathatain yang berada di akhir ayat atau ada tanda waqaf. Bacaan mad di sini menggantikan bunyi fathatain. Cara membacanya dipanjangkan dua harakat atau satu alif. Contoh hukum bacaan  mad iwadl terdapat pada surah al- Kahfi ayat 110 dan An-Nasr ayat 3 yang berwarna merah.
وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا     dan  إِنَّهُۥ كَانَ تَوَّابَۢا
Khusus fathatain yang berada pada huruf  ta marbutah  tidak di baca mad karena huruf tersebut jika di waqafkan berubah bunyi menjadi huruf ha.
Contoh terdapat di surah Ali Imran: 8 perhatikan  lafal yang berwarna merah berikut ini.
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨

B.  Mad Layyin

Menurut bahasa mad artinya panjang dan layyin artinya lunak. Sedangkan menurut istilah mad layyin adalah  mad yang terjadi apabila ada  wau sukun atau  ya sukun dan didahului oleh huruf yang  berharakat fathah dan setelahnya berupa huruf hidup yang dibaca waqaf. Cara membacanya boleh dipanjangkan sebanyak  dua harakat, empat harakat atau enam harakat.
Contoh mad layin terdapat pada surah Quraisy ayat 1-2, surah Ali Imran ayat 26.  Perhatikan lafal yang  berwarna merah.
لِإِيلَٰفِ قُرَيۡشٍ ١ إِۦلَٰفِهِمۡ رِحۡلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيۡفِ ٢
قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٦

C.  Mad ’arid lis-sukun

Menurut bahasa Mad artinya panjang, arid artinya baru/ tiba-tiba ada dan sukun artinya mati. Menurut istilah mad yang terjadi apabila ada huruf mad (wau, alif atau ya) yang berada di akhir ayat atau terdapat tanda waqaf. Cara membaca mad arid lis-sukun ada tiga macam, yaitu boleh dua harakat ( Qashr) empat harakat ( Tawassuth), atau enam harakat (Thul). Yang paling utama adalah membaca dengan panjang bacaan enam harakat.
Contoh  bacaan mad arid lis-sukun terdapat pada surah al-Ma’un ayat 1, surah Yasin ayat 9, az-Zumar ayat 20. Perhatikan lafal yang berwarna merah.
أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ١
وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا فَأَغۡشَيۡنَٰهُمۡ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ٩
لَٰكِنِ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ لَهُمۡ غُرَفٞ مِّن فَوۡقِهَا غُرَفٞ مَّبۡنِيَّةٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ وَعۡدَ ٱللَّهِ لَا يُخۡلِفُ ٱللَّهُ ٱلۡمِيعَادَ ٢٠

Sabtu, 08 April 2017

BAB I

 KHULAFAUR RASYIDIN

 Pengertian Khulafaur Rasyidin Khulafaur Rasyidin, berasal dari dua kata, khulafaur dan ar rasyidin. Kata khulafaur merupakan bentuk jamak dari khalifah yang artinya pengganti atau pemimpin. Kata ar rasyidin merupakan bentuk jamak dari ar rasyid yang berarti mendapat petunjuk, bijaksana, atau cerdas. Khulafaur Rasyidin, menurut bahasa artinya para pengganti yang mendapat petunjuk. Sedangkan Khualfaur Rasyidin menurut istilah artinya para pengganti Rasulullah untuk memimpin umat Islam yang selalu mendapat petunjuk dari Allah SWT.

 Para sahabat Rasulullah yang mendapat gelar Khulafaur Rasyidin berjumlah empat, yaitu:
 1. Abu Bakar as – Shiddiq (11-13 H = 632-634 M)
 2. Umar bin Kahttab (13-23 H=634-644 M) 3. Usman bin Affan (23-35 H=644-656 M)
 4. Ali bin Abi Thalib (35-40 H=644-661 M)

 Kedudukan Dan Tugas Khulafaur Rasyidin Rasulullah saw, semasa hidupnya mempunyai dua tugas, yaitu:
 1. Tugas Kenegaraan, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, serta pemimpin umat Islam. 2. Tugas Kenabian, sebagai pembawa risalah agar menyampaikan wahyu dari Allah kepada umat manusia. Tugas kenabian inilah yang tidak dapat digantikan oleh siapapun, tak terkecuali para sahabatnya.
 Rasulullah saw, adalah Nabi penutup dari para nabi atau Khatamunnabiyyin, seperti ditegaskan dalam Q.S. al Ahzab ayat 40: مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ٤٠ Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

 Tugas Khulafaur Rasyidin adalah:
 1. Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.
 2. Memimpin dan membina umat Islam agar selalu berpedoman dengan Al – Qur’an dan Hadist.
 3. Meneruskan dakwah Nabi Muhammad saw., dalam menyiarkan agama Islam ke seluruh dunia.

 Sifat – Sifat Utama Khulafaur Rasyidin Dalam menjalankan tugasnya, Khulafaur-Rosyidin selalu meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. Untuk mengatur negara dan umat dibutuhkan sifat-sifat terpuji.

Sifat – sifat terpuji Khulafaur Rasyidin antara lain:
 1. Selalu arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan.
2. Memiliki pengetahuan agama yang luas dan mendalam.
3. Mengutamakan kebenaran dan berani bertindak tegas.
4. Berwibawa dan berdisiplin.

 Cara Pengangkatan Khulafaur Rasyidin Masa kekholifahan Khulafaur -rosyidin berlangsung selama 29 tahun. Adapun cara pengangkatan Khulafur Rasyidin ada dua cara, yaitu:
1. Musywarah diantara kaum Muslimin, yaitu pada saat khalifah Abu Bakar, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
 2. Penunjukan langsung, yaitu pada saat khalifa Umar bin Khattab yang ditunjuk oleh Abu Bakar atas dasar musyawarah dengan beberapa sahabat.

Jumat, 31 Maret 2017

DUNIA DITANGAN AKHERAT DIHATI


Dalam segala masalah di kehidupan ini mesti ada dua golongan yang bertolak belakang. Sebagaimana bumipun ada dua kutub yang berlawanan yang selamanya tidak akan bisa bertemu, yakni kutub utara dan selatan. Demikian pula dalam permasalahan terhadap urusan dunia dan akherat, ada dua golongan manusia yang berpemahan kontradiktif dalam masalah ini.

Ada golongan manusia yang mendewa-dewakan dunia, sampai-sampai ia tidak sama sekali menyisihkan waktu dan tenaga untuk akheratnya, yang notabene kepentingannya sendiri. Tenggelam dalam kesibukan dan kenikmatan duniawi yang semu. Sementara disisi lain ada orang yang begitu sibuk dengan aktivitas akherat, sholat, dzikir, khuruj untuk berdakwah hingga ia melupakan hak-hak diri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Istri terbengkalai, anak-anak terlantar serta badannya tiada terurus. Sehingga disatu sisi ahli ibadah khusyuk, sementara disisi lain ia menjadi orang yang hidupnya menggantungkan pada belas kasih dan uluran tangan orang lain. Na’udzubillah mindzalik.....padahal Rasulullah saw bersabda :


Artinya : “Barang siapa meminta-minta padahal memiliki apa yang mencukupinya, maka ia hanyalah memperbanyak api (untuk membakar dirinya)” (HR Abu Dawud)

DUNIA AKHERAT SEIMBANG

Dunia ditanganku Akherat dihatiku, itulah perkataan orang bijak. Idealnya memang seorang hamba untuk beribadah dan berdakwah dengan segenap jiwa, namun hendaklah itu tidak menjadikannya lupa terhadap bagiannya di dunia. Inilah Allah ta’ala peringatkan kepada hamba-hamba-Nya dalam Qur’an Surat Al-Qoshos ayat 77
Artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari kenikmatan duniawi “.


KETIKA HARUS MEMILIH

Suatu ketika manusia pasti akan dihadapkan pada dua pilihan yang dilematis antara dunia dan akheratnya. Bahkan kadang sangat-sangat sering hal ini menimpa kita. Antara dua pilihan dunia dan akherat. Ngaji atau tivi, keluarga atau Allah, pekerjaan atau pahala.

Bagi orang yang dibimbing dengan hidayah-Nya ia akan mudah untuk memilih yang benar, yakni pilihan akherat. Namun bagi orang yang lemah lagi bodoh tidak sedikit yang salah pilih, memilih kenikmatan dunia yang semu dan mengorbankan akheratnya, demi cintanya kepada anaknya rela mengorbankan kecintaannya kepada Robbnya, Na’udzubillah mindzalik. Padahal dunia itu bila diandingkan dengan akherat amat-amat kecil. Tiada kehidupan yang sesungguhnya kecuali kehidupan akherat.

Kamis, 30 Maret 2017

MISI DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW DI MEKAH



1. Permulaan dakwah Nabi Muhammad saw.
Nabi Muhammad saw diangkat sebagai Nabi dan Rasul pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tzhun Sebelum Hijrah (610 M) waktu itu usia Nabi genap 40 tahun. Beliau diangkat ketika sedang bertakhanut/berkholwat di Gua Hira. Pengangkatannya sebagai Nabi ditandai dengan turunnya Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu peretama yaitu QS Al-‘Alaq : 1-5.

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣
ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥
                    Artinya  :
1. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmua yang menciptakan
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
3. Bacalah dan Tuhanmulah yang maha pemurah
4. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Turunnya ayat Al-Qur’an tersebut dalam sejarah disebut Nuzulul Qur’an, kemudian turun wahyu yang kedua yaitu QS Al-Mudatsir 1-7.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١ قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤
وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ٥ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ٦ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ ٧
       Artinya:
      1.     Hai orang-orang yang berselimut
      2.     Bangunlah lalu berilah peringatan,
      3.     Dan Tuhanmu agungkanlah
      4.     dan pakaianmu bersihkanlah
      5.      Dan perbuatan dosa tinggalkanlah
      6.    dan janganlah kamu memberi dengan (maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak
      7.    dan untuk memenuhi perintah Tuhanmulah bersabarlah.
Surat Al-Mudatsir berisi perintah Allah agar Nabi Muhammad saw berdakwah menyiarkan ajaran Islam manusia . Dimulai  dengan cara sembunyi-sembunyi sesuai dengan dasar QS Asy-Syuara’ : 154.
و انذر عشير تك الاقر بين
Artinya : …………………..dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.

Nabi mulai berdakwah kepada keluarga dan sahabat-sahabat terdekatnya. Rumah Arkam bil Abil Arkam  Al-Makhzumi sebagai pusat kegiatan dakwahnya.

Kerabat Nabi yang menerima dakwahnya antara lain :
1. Istrinya Siti Khotijah seorang wanita pertama yang masuk Islam
2. Kemudian sepupunya Ali bin Abi Tholib dari golongan anak yang masuk Islam
3. Zaid bin Haritsah dari golongan hamba sahaya
4. Abu Bakar dari golongan dewasa.
Selain itu dua paman Nabi yang menolaknya yaitu Abu Tholib dan Abu Lahab, Abu Tholib membiarkannya Nabi Muhammad saw berdakwah bahkan melindungi dari gangguan dan ancaman pembesar Quraisy. Sedangkan Abu Lahab menentangnya sampai meninggal dunia, sehingga Allah mengabadikan cerita Abu Lahab dalam QS Al-Lahab.
Selama 3 tahun Nabi Muhammad saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi, kemudian turunlah  QS Al-Hijr : 94 yang memerintahkan dakwah terang-terangan.
فا صد ع بما تؤ مر وأ عرد عن المشركين
Artinya : Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.
 Nabi Muhammad saw berdakwah terang-terangan dari golongan budak, bangsawan ke seluruh lapisan masyarakat dan Negara lain. Dilakukan pertama kali di Bukit Shafa, pada waktu itu pamannya Abu Lahab menentang kerasah Nabi dan peristiwanya diabadikan dalam surat Al-Lahab.

Nabi Muhammad saw menerima wahyu secara berangsur-angsur .  Selama 13 tahun di Makkah (610-622M)Nabi Muhammad saw menerima 4.726 ayat dan 89 surat. Surat-surat yang diturunkan di Makkah dinamakan surat Makiyah.

Misi Nabi Muhammad saw sebagai rohmatan lil’alamin yaitu :
1. Mengajarkan kepada manusia tentang akidah dan larangan menyembah selain Allah swt.
2. Menegaskan tentang adanya hari pembalasan.
3. Mengajarkan akhlak terpuji dan melarang berbuat kemungkaran.
4. Mengakui dan melindungi hak asasi manusia.


NABI MUHAMMAD SAW. HIJRAH KE MADINAH



1. Arti hijrah dan Tujuan Nabi Muhammad saw. dan Umat islam Berhijrah
Setidaknya ada dua macam arti hijrah yang diketahui oleh umat Islam. Pertama hijrah berarti meninggalkan semua perbuatan yang dilarang dan dimurkai Allah Swt. untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, yang disuruh Allah Swt. dan diridai-Nya.
Arti kedua hijrah adalah berpindah dari suatu negeri kafir (non-Islam), karena di negeri itu umat Islam selalu mendapat tekanan, ancaman, dan kekerasan, sehingga tidak memiliki kebebasan dalam berdakwah dan beribadah. Kemudian umat Islam di negeri kafir itu, berpindah di negeri Islam agar memperoleh keamanan dan kebebasan dalam berdakwah dan beribadah.
Arti kedua dari berhijrah ini pernah dipraktikkan oleh Rasulullah saw. dan umat Islam, yakni berhijrah dari Mekah ke Yatsrib pada tanggal 12 Rabulawal tahun pertama hijriah, bertepatan dengan tanggal 28 Juni 622 M.
Tujuan hijrahnya Rasulullah saw. dan umat Islam dari Mekah (negeri kafir) ke Yatsrib (negeri Islam) adalah sebagai berikut.
a. Menyelamatkan diri dan umat Islam dari tekanan, ancaman dan kekerasan kamum kafir Quraisy. Bahkan pada waktu Rasulullah saw. meninggalkan rumahnya di Mekah untuk berhijrah ke Yatsrib (Madinah), rumah beliau sudah di kepung oleh kaum Quraisy dengan maksud untuk membunuhhnya.
b. Agar memperoleh keamanan dan kebebasan dalam berdakwah serta beribadah, sehingga dapat meninggatkan usaha-usahanya dalam berjihat di jalan Allah Swt. untuk menegakkan dan meninggikan agama-Nya (Islam).

2. Sebab Nabi Muhammad saw. Berhijrah ke Madinah
Ancaman dari kafir Quraisy semakin keras setelah Nabi Muhammad saw. kehilangan Abu Talib dan siti Khadijah. Pemipin Quraisy terang-terangan menentang Nabi Muhammad saw. karena menganggap kebangkitan Islam dengan kehancuran posisi sosial mereka. Kebangsawanan mereka akan hilang dan hancur karena Islam mengajarkan persamaan derajat manusia. System kepemimpinan bangsawan tidak ada di Yatsrib (Madinah). Hal ini juga menyebabkan Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah. Hijrah dianggap sebagai alternatif perjuangan untuk menegakka ajaran Islam.
Selain itu, ada beberapa faktor yang mendorong Nabi Muhammad saw. memilih Yatsrib sebagai tempat hijrah umat Islam. Faktor-faktornya antara lain sebagai berikut.
a. Yatsrib adalah tempat yang paling dekat.
b. Sebelum diangkat menjadi Nabi, beliau telah mempunyai hubungan baik dengan penduduk kota tersebut. Hubungan itu berupa ikatan persaudaraan karena kakek Nabi, Abdul Mutalib beristrikan oran Yatsrib. Di samping itu, ayahnya dimakamkan di sana.
c. Penduduk Yatsrib sudah dikenal Nabi karena kelembutan budi pekerti dan sifat-sifatnya yang baik.
d. Bagi Nabi sendiri, hijrah merupakan keharusan  selain karena perintah Allah Swt.

3. Proses Hijrah Nabi Muhammad saw. ke Madinah
Sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, beberapa kalangan diantara penduduk Madinah telah memeluk Islam. Berita ini pun sampai ke Mekah. Tersebarnya kabar tentang masuk Islamnya sekelompok penduduk Madinah membuat orang-orang kafir Quraisy semakin meningkatkan tekanan terhadap orang-orang mukmin di Mekah.
Dalam upaya menyelamatkan dakwah Islam dari gangguan kafir Quraisy, Rasulullah saw. atas perintah Allah Swt. bersegerah hijrah dari Mekah ke Madinah. Namun, sebelumnya Nabi saw. memerintahkan kaum mukmin agar hijrah terlebih dahulu ke Madinah. Para sahabat segera berangkat secara diam-diam agar tidak dihadang oleh musuh.
Menjelang Rasulullah saw. hijrah, kaum kafir Quraisy telah merencanakan upaya jahat untuk membunuh beliau. Ketika saatnya tiba, sebagaimana dituturkan oleh Muhammad Husain Haikal dalam Hayat Muhammad, pemudah-pemudah yang sudah disiapkan kaum Quraisy untuk membunuh Rasulullah saw. di malam itu sudah mengepung rumah beliau. Pada saat bersamaan, Rasulullah saw. menyuruh Ali bin Abi Talib untuk memakai jubahnya yang berwarna hijau dan tidur dikasur beliau. Nabi Muhammad saw. meminta Ali agar ia tinggal dulu di MEkah untuk menyelesaikan berbagai keperluan dan amanah umat sebelum melaksanakan hijrah.
Para pemudah yang sudah disiapkan Quraisy dari sebuah celah, mengintip ke tempat tidur Nabi Muhammad saw. mereka melihat ada sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mereka pun puas bahwa orang yang mereka incar belum lari. Menjelang larut malam, Rasulullah saw. keluar dari rumah beliau dan menaburkan pasir ke kepala para pemuda tersebut sambal membaca: "dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding  (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat." (Q.S. Yasin: 9).
Rasulullah saw. pun lolos dari penglihatan para pemuda tersebut dan menuju ke rumah Abu Bakar dan terus bertolak ke arah selatan, ke arah Yaman, menuju Gua Tsur. Untuk mengelabuhi para pemuda Quraisy yang telah menutup semua jalur menuju Madinah, Rasulullah saw. memutuskan menempuh jalan lain, rute yang berbeda, dari jalur yang biasa digunakan penduduk Mekah untuk menuju Madinah. Beliau juga memutuskan akan berangkat bukan pada waktu yang biasa.
Para pemuda Quraisy yang berencana akan menyergap Nabi saw. pun kemudian memasuki rumah beliau. Namun alangkah terkejutnya mereka, karena ternyata beliau sudah tidak ada di tempat. Mereka hanya mendapati Ali sedang tidur di Kasur beliau.
Yang ditempuh Rasulullah setelah keluar dari rumah beliau adalah Gua Tsur, yang berjarak sekitar enam hingga tujuh kilometer di selatan Mekah. Sedangkan Madinah berada di sebelah utara Mekah. Langkah ini diambil untuk mengelabuhi kafir Quraisy.
Di Gua Tsur ini, Rasulullah saw. dan Abu Bakar, yang menemani beliau, tinggal selama kurang lebih tiga hari.
Sebelum melengkahkan kaki, Rasulullah saw. menatap kota Mekah dari kejauhan. Dengan berlinang air mata, beliau berucap, "Demi Allah, engkaulah bagian bumi Allah yang paling baik dan paling aku cintai, andai kata tidak diusir, aku tak akan meninggalkanmu, wahai Mekah." "Janganlah Engkau Bersedih Hati …"
Gua yang sempit dan jarang disinggahi manusia itu dipilih untuk satu tujuan yang tidak diketahui siapa pun kecuali Nabi, Abu Bakar, sahabat yang kelak menjadi mertua beliau, dan ada empat orang, yakni Ali bin Abu Talib, Abdullah, dan Asma (keduanya putra-putri Abu Bakar), serta pembantu Abu Bakar, Amir bin Fuhairah.
Keempat orang itu mendapat tugas yang sangat strategis bagi kesuksesan perjalanan yang amat bersejarah tersebut.
Ali berdiam di rumah Rasulullah saw. untuk mengelabui kaum musyrikin. Abdullah ditugasi untuk memantau perkembangan berita di kelangan orang-orang kafir Mekah lalu menyampaikannya kepada Rasul pada malam harinya ke tempat persembunyian. Asma setiap sore membawa makanan buat Rasul dan ayahnya. Amir bin Fuhairah ditugaskan mengembalakan kambing Abu Bakar, memerah susu, dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah bin Abu Bakar kembali dari tempat mereka bersembunyi di gua itu, datang Amir mengikutinya dengan kembingnya guna menghapus jejak.
Sementara itu Quraisy berusaha keras mencari jejak Rasulullah sawe. dan Abu Bakar. Pemuda-pemuda Quraisy dengan wajah beringas membawa senjata tajan. Jadi, tidak mungkin ada orang yang masuk ke dalamnya.
Sedangkan di dalam gua, Abu Bakar merasa khawatir. Apalagi mendengar derap langka orang-orang itu, Maka turunlah firman Allah Swt. Q.S. at-Taubah 40
Artinya: "Jika kamu tidak menolongknya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengusirnya (dari Mekah), sedang dia salah seorang dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu dia berkata kepada temannya, janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita. 'Maka Allah menurungkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya. Dan Allah menjadikan saruan orang-orang kafir itulah rendah, dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksanan."

Setelah meyakini bahwa apa yang dicari tampaknya tidak membuahkan hasil, gerombolan musyrikin ini meninggalkan gua tersebut. Tiga hari tiga malam Rasulullah saw. bersma Abu Bakar di dalam gua yang senyap dan gelap itu.

Pada hari ketiga, ketika keadaan sudah tenang, unta untuk kedua insan yang saling mencintai ini didatangkan oleh Amir bin Fuhairah. Asma pun datang menyiapkan makanan.

Dikisahkan, Asma merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya digunakan untuk menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan, sehingga ia lalu diberi nama Dzat an-Nithaqain (Yang Memiliki Dua Sabuk).

Setelah tiga malam berada di gua, pada malam Senin tanggal 1 Rabiulawaal tahun pertama hijriah, atau pada tanggal 16 September 622 M, Rasulullah saw., Abu Bakar r.a. Amir bin Fuhairah menuju Madinah, Rasulullah saw. duduk di atas unta, yang dalam kitab tarikh disebut dengan nama "al-Qushwa".

Menjelang siang, Rasulullah saw. dan Abu Bakar berangkat meninggalkan Gua Rsur. Karena mengetahui pihak Quraisy gigih mencari mereka, mereka mengambil rute jalan yang tidak bisa ditempuh orang. Dengan ditemani Amir bin Fuhairah dan mengupah seorang Badwi dari Bani Du'il, Abdullah bin 'Uraiqith, sebagai petunjuk jalan, mereka berempat menuju selatan Lembah Mekah, kemudian menuju Tihamah di dekat pantai Laut Merah. Sepanjang malam dan siang. Mereka menempuh perjalanan yang amat berat.

Selama tujuh hari Rasulullah saw. bersama Abu Bakar, Amir, dan penunjuk jalannya menyusuri padang pasir nan luas dan gersang. Mereka beristirahat di siang hari karena panas yang membara dan kembali melanjutkan perjalanan sepanjang malam, mengarungi padang pasir dengan udara dingin yang masuk tulang. Hanya iman kepada Allahlah yang membuat Rasulullah saw. dan sahabatnya berteguh hati dan merasakan damai yang menyelimuti.

 Sebelum memasuki Yatsib, Rasulullah saw. singgah di Quba (kira-kira 10 km jauhnya dari Yatsrib. Di sini Rasulullah saw. mendirikan sebuah masjid yang dinamakan Quba. Tempat pada hari Jumat, 12 Rabiulawal tahun 1 Hijriah atau bertepatan dengan 24 September 622 M, R asulullah saw., Abu Bakar, dan Ali bin Abi Talib yang telah menyusulnya memasuki kota Yatsrib. Mereka mendapat sambutan yang penuh haru, hormat, dan kerinduan diiringi pujian-pujian dari seluruh masyarakat Madinah. Pada hari itu juga, Rasulullah saw. mengadakan salat jumat yang pertama kali dan berkhotbah di hadapan kaum Muhajirin dan Ansar.

Sejak saat itu, kota Yatsrib berubah namanya menjadi Madinah Nabi (Madinah Rasul). Selanjutnya kota itu disebut Madinah. Orang-orang yang pindah atau hijrah mendapat sebutan kaum Muhajirin artinya pendatang. Adapun penduduk asli disebut Ansar artinya pembela.

Di Madinah, Rasulullah saw. memanjatkan doa yang artinya: Ya Allah, berkahilah buah-buahan kami, berkailah kota kami, berkailah Sha' kami, dan berkailah Mud kami. Ya Allah, Nabi Ibrahim adalah hamba-Mu dan kekasih-Mu.sedangkan aku adalah hambah dan Nabi-Mu. Dia berdoa kepada-Mu bagi kemakmuran Mekah dan aku berdoa kepada-Mu bagi kemakmuran Madinah, seperti Ibrahim mendoakan kota Mekah (HR. Muslim).

Peristiwa hijrah ini amat penting artinya bagi Islam dan kaum muslimin karena hijrahnya Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Madinah dijadikan sebagai permulaan tahun Hijriah. Dengan hijrahnya kaum muslim, terbukalah kesepakatan bagi Nabi Muhammad saw. untuk mengatur strategi membentuk masyarakat muslim yang bebas dari ancaman dan tekanan. Beberapa strategi dalam hal tersebut dalah mengadakan perjanjian saling membantu antara kaum muslimin dengan orang-orang non muslimin dan mambangun kerja sama, baik di bidang politik, ekonomi, sosial serta dasar-dasar daulah Islamiyah.

Dakwah Rasulullah saw. periode Madinah dapat mewujudkan masyarakat muslim di Madinah yang adil dan makmur sehingga menjadi prototipe masyarakat yang ideal atau sering disebut masyarakat madani. Beliau juga turut berjuang dalam memelihara dan mempertahankan masyarakat yang dibinanya itu dari segala macam tantangan, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar.